Friday, June 5, 2009

Asal - Muasal dari Toga Purba

Blog For Everybody who loves the live

* Home
* About
* Asal - Muasal dari Toga Purba

Asal - Muasal dari Toga Purba

Referensi tentang TOGA PURBA yang digabung dari diskusi di milist PARROHA SIAN PURBA

Purba (Toba) adalah keturunan Toga Simamora. Toga Simamora mempunyai tiga anak. (kadang ada yang menyebutkan empat). Berikut ini adalah keturunan Toga Simamora:
1. Toga Purba
2. Toga Manalu
3. Toga Debata Raja
4. Tuan Sumerham
Cat: Yang lazim di Toba hanya disebut tiga. Ada versi yang mengatakan Toga Simamora merantu ke daerah Pakkat dan Barus dan mempunyai keturunan di sana yaitu Tuan Sumerham.
Mungkin rekan-rekan yang lain bisa menambahkan. Mauliate.

Mungkin jawaban ini bisa membantu:
Tarombo Purba (Menurut Batak Toba)
Si Raja Batak—-> Raja Isumbaon—-> Tuan Sori Mangaraja—-> Tuan Sorba Dibanua—-> Raja Sumba—->
Dari Raja Sumba ada 2 anaknya : 1. Toga Simamora 2. Toga Sihombing
Kita fokus ke Toga Simamora!!!
Toga Simamora ada 4 anaknya, yang paling tua Purba, kedua Manalu, ketiga Debata Raja (karena keberatan nama jadi mereka kembali pakai nama Simamora), keempat Rambe (Sumerham)
(cat. Rambe ini beda dengan Rambenya Bor-Bor/Naimarata)
Kita fokus ke Purba!!!
Anaknya Purba (menurut Batak Toba)
1. Pantomhobol anaknya no.1 Tuan Didolok no.2 Pargodung no.3 Balige Raja
2. Parhorbo anaknya no.1 Parhoda-hoda no.2 Marsaha Omas no.3 Tuan Manorsa
3. Sigulang Batu anaknya no.1 Raja Dilangit no.2 Raja Ursa
Kemungkinan dari Purba Sigulang Batu ini ada yang merantau ke daerah Simalungun dan Karo, maka ada marga Purba Simalungun (contoh: Girsang, Purba Pak-Pak, Purba Sibero, Purba Sigumondrong,dll) dan marga Tarigan (di Karo)

Purba Karo beda dengan Purba Toba dan Simalungun, mereka itu masuk Karo-Karo. Yang sama dengan Purba Toba dan Simalungun hanyalah Tarigan.
Kebetulan sekali di Purba Toba. Saya termasuk keturunan yang tertua; Pantomhobol, Tuan Didolok no.15
dari Purba no. 15
dari Pantomhobol no. 14
dari Tuan Didolok no. 13
Appara Purba: Manalu, Debata Raja (Simamora), Rambe
PLEASE CORRECT ME IF I WRONG!!!!

Terima kasih sanina atas penjelasannya. Saya cukup mengerti untuk penjelasan mulai dari Si Raja Batak sampe ke generasi anak2nya Purba. Hanya yang mungkin masih samar2 atau kurang jelas, apakah memang hanya Purba Sigulang Batu yang merantau ke simalungun dan karo dan akhirnya membuat cabang marga purba seperti di simalungun dan karo saat ini? sementara ada juga purba yang lainnya yang ada di tanah simalungun seperti purba manorsa, purba patomhobol, purba parhorbo dan yang lainnya.
Kalo boleh tau, darimana sanina mendapatkan sumbernya?
dan mungkin kalo yang lain punya buku atau sumber lainnya yang bisa jadi referensi mengenai silsilah purba ini, boleh diberitahu ke kita semua supaya kita semakin mengerti dan jelas akan silsilah purba ini.
Mungkin dari sanina marga tarigan atau purba simalungun ada yang bisa jelaskan asal muasal marga purba dan tarigan yang ada di simalungun dan karo sekarang.Bila kita coba bandingkan antara marga tarigan dan marga purba di simalungun cabang2nya hampir mirip semua.Contoh :tarigan tambak=purba tambak; tarigan sibero=purba siboro; tarigan tua=purba tua;tarigan gerneng=purba sigumonrong;tarigan silangit=purba silangit dll
nai ma lobei tene…
horas ma banta ganupan…!

Ini ada sedikit yang bisa saya bagi. Mudah2an yang saya terangkan ini tidak salah.
Purba ada banyak, termasuk di dalamnya adalah Pakpak, Dasuha, Sigumonrong, Tanjung, Tambun, Tambak, dan lain-lain. Kalau Purba Pakpak ada si Lima Bapak, yakni (mudah2an urutan tidak salah, kalo salah mohon dimaafkan): Hinalang, Nagori, Bangun Purba, Purba Tua dan Nagasaribu

Purba Parhorbo keturunan Manorsa ada yang tinggal di Simalungun. Mereka adalah Purba Tambun Saribu (TAMSAR) dan Purba Tondang. Kuburan Tuan Manorsa juga tetap di Haranggaol , sedang tugunya ada di Simamora Nabolak. Kebanyakan Purba yang disimalungun hijrah dari Pakpak yakni keturunan Purba Sigulang Batu, dan yang pernah saya tau Tarigan juga berasal dari Purba Sigulangbatu.

Kalau anak Sumerham itu Rambe. Rambe juga satu dengan kita dan banyak juga mereka memakai marga purba, manalu, dan simamora. Setahu saya itu di Simalungun gak ada penomoran seperti di Toba…nyatanya banyak saudara-saudara kita yang saragih dari Toba seperti Saragih Simarmata dll dah gak tahu mereka urutan berapa…

Tarombo yang mengatakan Purba Simalungun dari keturunan Sigulang batu ngawur banget…melihat Purba Simalungun tidak bisa dari sudut Toba,melihat Purba Simalungun harus dari sudut Simalungun juga seperti melihat sejarah Purba Toba dari sudut Toba.. Yang jelas Girsang bukan dari Toga Simamora krn Girsang asli dari Lehu Pakpak dan kemudian berafiliasi ke Purba Simalungun agar bisa hidup bahkan menjadi Raja di Silimakuta…

Memang saat ini kita sama-sama Purba namun belum tentu semua berasal dari Toga Simamora,Presiden kita bernama tengah Bambang apakah ia bersanina dengan semua yang bernama Bambang juga?Biarlah yang Toba mengakui bahwa mereka keturunan dari Toga Simamora tp jangan paksakan Purba Simalungun dan Tarigan adalah keturunan Toga Simamora juga dengan menggunakan dalil atau bukti2 yang ngaco dan ngawur…

itulah dulu…
Diatei Tupa ma sanina-sanina
Michael yang dimargakan ke Girsang

Michael Fransisco Tomarere
Kita tidak boleh mengatakan tarombo tertentu ngawur. Sebab tarombo adalah sesuatu yang selalu disampaikan oleh para pendahulu kepada keturunannya. Mari kita bahas satu persatu:
Anda mengatakan :
Setahu saya itu di Simalungun gak ada penomoran seperti di Toba…nyatanya banyak saudara-saudara kita yang saragih dari Toba seperti Saragih Simarmata dll dah gak tahu mereka urutan berapa…
Jawaban saya :
Masalah penomoran sangat mudah ditentukan dari Batak manapun dia berasal apabila tarombonya jelas, penomoran hanyalah sebuah benang merah ke marga asal dia yang penting tarombonya jelas. Apabila orang tertentu tidak tahu dia nomor berapa dari marganya, saya yakin dia tidak memiliki tarombo yang disampaikan orangtuanya untuk menjadi pegangannya.
Anda mengatakan :
Tarombo yang mengatakan Purba Simalungun dari keturunan Sigulang batu ngawur banget…melihat Purba Simalungun tidak bisa dari sudut Toba,melihat Purba Simalungun harus dari sudut Simalungun juga seperti melihat sejarah Purba Toba dari sudut Toba.
Jawaban saya :
Setahu saya Purba yang dari Simalungun yang sedikit banyak mengetahui tarombo secara umum mengaku bahwa mereka sama dengan Purba yang di Toba.
Purba yang di Simalungun berasal dari 2 Purba yang di Toba yaitu dari Sigulang Batu dan Parhorbo yang di Toba.
Ini juga sekalian koreksi buat appara Rabbie Himawan Suhantoro Purba anak Sigulang Batu itu hanya satu yaitu Partaliganjang(Parlangka Jolo), saya tahu appara melihat dari Kalender tarombo yang dibuat oleh marga Sianturi di Jakarta, yang benar anak Sigulang Batu hanya satu appara.
Oke, sekarang kita mulai lagi :
I. Purba Sigulang Batu —-> Partaliganjang(Parlangka Jolo) —> Guru Sotangguon.
Anaknya Guru Sotangguon ada 2 yaitu :
1. Somalate
2. Datu Rajim
Anaknya Somalate ada 2 yaitu :
1. Juaro Parultop
2. Datu Parulas
Catatan : Sesuai tarombo yang sampai ke kami, Juaro Parultop dan Datu Parulas merupakan anak kembar (silinduat), makanya kadang Purba yang dari Simalungun yang punya tarombo menuliskannya dengan Datu Parultop/Parulas.
Keduanya merupakan orang sakti (datu bolon), mungkin ceritanya agak panjang kalau saya tuliskan di sini, tapi dari tarombo yang ada Juaro Parultop memperanakkan : Purba Tambak, Tarigan (di karo), Purba Batu.
Datu Parulas memperanakkan : Girsang, Siboro, Purba yang ada di Simalungun.

II. Purba di Simalungun yang berasal dari Purba Parhorbo di Toba merupakan keturunan dari Purba Parhorbo —> Tuan Manorsa.
Yaitu Purba di Simalungun yang berasal dari Haranggaol, dan sekarang di sana juga terdapat tugunya.
Ini juga ada ceritanya dan saya rasa cukup panjang untuk diungkapkan di sini, mungkin kepada admin bisa dibuatkan topik khusus untuk ini.
Purba Toba tidak pernah memaksa siapapun melihat Purba Simalungun dari sudut Toba, persoalannya kalau kita mau jujur saudara-saudara kita Purba yang dari Simalungun tidak begitu mengerti tentang tarombo, hanya itu saja.

Anda mengatakan:
Yang jelas Girsang bukan dari Toga Simamora krn Girsang asli dari Lehu Pakpak dan kemudian berafiliasi ke Purba Simalungun agar bisa hidup bahkan menjadi Raja di Silimakuta…

Jawaban saya:
Anda sah-sah saja mengatakan Girsang bukan berasal dari Simamora yang otomatis tidak ada hubungannya dengan Purba juga, tapi seperti tarombo yang saya ungkapkan di atas, jelas terlihat Girsang ada hubungannya dengan Purba. Anda juga harus sadar, bahwa tidak tertutup kemungkinan ada marga yang sama tapi tidak berasal dari garis keturunan yang sama. Anda tidak percaya? Saya berikan contohnya adalah marga Hutapea.
Marga Hutapea itu ada 2 yaitu :
1. Hutapea dari Laguboti yang merupakan keturunan Sipaet Tua
2. Hutapea dari Tarutung yang meruapakan keturunan Raja Sobu
Begitu juga dengan Girsang, kalau anda ketemu 5 orang marga Girsang secara acak dan tidak pernah anda kenal sebelumnya, coba tanyakan mereka masuk ke garis keturunan yang mana? (Purba atau Lehu Pakpak seperti yang anda katakan?), saya yakin pasti jawaban mereka berbeda.
Sebab kami sudah melakukan itu di Surabaya, harap diingat kita di Purba tidak pernah memaksakan suatu marga tertentu masuk ke marga kita.

Anda mengatakan :
Memang saat ini kita sama-sama Purba namun belum tentu semua berasal dari Toga Simamora,Presiden kita bernama tengah Bambang apakah ia bersanina dengan semua yang bernama Bambang juga?Biarlah yang Toba mengakui bahwa mereka keturunan dari Toga Simamora tp jangan paksakan Purba Simalungun dan Tarigan adalah keturunan Toga Simamora juga dengan menggunakan dalil atau bukti2 yang ngaco dan ngawur…

Jawaban saya:
Analogi yang anda berikan menurut saya malah ngawur, jangan samakan tarombo dengan nama tertentu yang tidak mengenal budaya tarombo.
Seperti yang saya katakan di atas tidak ada yang memaksa, kalau mau masuk Purba silahkan, kalau tidak juga silahkan.
Tapi tolonglah, jangan pernah mengatakan orang ngaco dan ngawur dalam hal tarombo, jika memang anda punya bukti/dalil juga, silahkan dibeberkan, biar bisa kita bahas secara bersama.

Demikian sedikit banyak hal yang bisa saya bagikan. Terimakasih.
Sai dipasu-pasu Tuhanta ma hita sudena. Amen.

Yg saya sedikit tahu, di simalungun ada namanya desa purba dolok, dan disana ada bekas kerajaan purba (rumabolon) apakah sanina/ampara sekalian sudah pernah lihat, apakah dia nyebrang danau atau anaknya yg nyebrang danau ke TOBASA??? tapi sangat menarik bila ada yg mengupas tuntas ini, Asa iboto hita takkas na tigor, tape agepe sonai ibaen ma semacam patumpuhon bukti na akurat, ikkon songoni do muse tu hamu apparanami sian TOBASA. Ai partopini tao do sude hita.

Bapak saya pernah bertemu keturunan raja purba dolok, mereka memang mengaku gak ada hubungan dg purba toba. dan mereka sendiri masih generasi ke9 dari raja purba simalungun (entah yg mana?) sedangkan ditoba sudah generasi ke 17. jadi mungkin saja gak ada hubungan. tetapi pada umumnya mengakui kok asalnya dari toba. yg pasti bukan dari simalungun ke toba tapi dari toba ke simalungun. memang ada beberapa marga simalungun protes bahwa orang toba seenaknya saja menulis cerita tarombo itu. memang karna batak ditobalah yg duluan sekolah, jadi merekalah yg pertama membuat buku, tapi harus kita hargai, nenek moyang kita dulu tidak sembaranganmembuat hukum, mereka harus marhorja dulu. nenek moyang saya sendiri menuliskan di kayu bagimana perjalanan tarombo mereka.
sehingga saya bisa tahu aslinya saya dari purba generasi ketiga sampai saya generasi ke15 masih ada bukti kuburannya didepan rumah oppung saya disimamora nabolak. semoga membantu
horas
br purba sian jawa timur

saya setuju dgn apa yg sudah dikatakan ito Hiras
saya mau menambahkan sedikit, tidak semua suku seperti batak mau susah payah mengurusi tetek bengek silsilah/tarombo. tapi bila kita lihat sejarah israel, bagimana negara sekecil itu berhasil survive ribuan tahun digempur negara tetangga, diserakkkan keseluruh dunia, diholocost sampai 6jutaan nyawa melayang, seumur hidup berperang terus.

selain karena janji Tuhan juga adalah karena mereka mempertahankan silsilahnya. sejauh apapun mereka merantau, mereka tetap rindu pulang dan terhubung dengan tanah tumpah darahnya diJerusalem. mereka tetap mencatat baik-baik bagaimana hubungan darahnya dengan ribuan generasi yg sudah mati. mereka tidak bisa punah karena itu. seperti berkat israel kepada Yusuf, bahwa seperti anggur yg jauh mengatasi tembok, tetap berbuah selama dia terhubung dengan akarnya dijerusalem, demikianlah mereka tetap akan berbuah diperantauan selama terhubung dengan akarnya. semangat inilah yg membuat mereka membuat gerakan zionis (mohon jangan ditanggapi dari segi politik, nti jadi panjang deh..)

klo dari ssisi amrik saja, presidennya harus jelas silsilahnya, demikian juga orang jawa harus jelas bibitnya selain bobot & bebet. tarombo itu ditulis apa adanya seperti alkitab dengan segala kejatuhan tokohnya. bagaimana daud diceritakan dia mencuri istri uria, salomo beristri 1000 dll, demikian juga tarombo sudah ditulis jujur apa adanya.

purba manorsa sudah menulis dgn jujur bagaimana manorsa membunuh istrinya, kabur meninggalkan 3 anak balita, kawin lagi dipelarian, meninggalkan istri kedua disamosir, kawin lagi di haranggaol. puluhan tahun anaknya yg ditoba mencari, menapaktilas jejak ayahnya, lalu thn 1930 menemukan akarnya diperantauan, sejarah mencatat bagaimana isak tangis keturunan yg terpisah ratusan tahun, saling memafkan kesalahan ayah dan berdoa bersama supaya Tuhan ampuni dosa nenek moyang dan bangkitkan generasi yg takut akan Tuhan. klo secara manusia, repot bangat deh anak itu mencari ayah yg “ga bertanggungjawab” (maaf tuan manorsa….), kenapa ga tulis aja tarombo bahwa bapanya mati karena sudah uzur, tidak pernah mbunuh istri dan ninggalin anak bla-bal-bal…..tetapi sianak melihat jauh kedepan, dia digerakkan oleh kasih yg masih ingin tahu apakah masih ada sanak yg diturunkan ayah diperantauan, bukan untuk berebut harta tetapi untuk berhubungan secara kaka-adik. saya salut & berutangbudi buat oppung yg sdh mencari akarnya sehingga saya tahu klo punya bapaanggi diharanggaol.

juga sejarah marga lain yg incest. salah satu anak raja borbor menghamili adik kandung, si adik diusir kehutan, melahirkan anak lelaki, dan karna cuma mereka berdua dihutan akhirnya sianak kawin dgn ibunya.

juga sejarah sirait sianggian, ingin membunuh pembantunya untuk mengambil darah yg akan dipakai sebagai cat, tetapi akal bulusnya dilawan pembantunya sehingga borunya sendirilah yg dibunuhnya. semua itu tidak berusaha ditutup-tutupi atau diubah. menjadi bukti otentik sejarah.

ada “RASA” yg begitu dalam dan beda bila bertemu dengan teman semarga dan ada suatu RASA yg begitu aneh tapi nyaman mendengar kata “BONA PASOGIT/ BONANI PINASA’ yg tak dialami oleh suku lain. cuma darah orang batak kok yg bisa mengkuling/bicara hahhaha. nah rasa inilah yg menghubungkan jutaan orang batak sehingga tetap setia membina hubungan kemargaan ini. klo rasa ini sudah tak ada yah apaboleh buatlah, tetapi yg masih merasakan menceritakan pada generasi berikutnya supaya tetap ingat.

bagi orang yg merindukan akarnya janganlah kita hina. bagi orang yg tidak merasa perlu terhubung dgn tarombonya juga jangan kita hina. sebab klo konteks rohani, disurga nanti gak saling kenal kok, klo saling kenal wah.jambak2anlah istri pertama dgn istri kedua.hhhhh

tetapi selama kita merasa orang batak, menghargai kearifan nenek moyang, merasa itu ada gunanya untuk kepuasan batin spiritual, mari kita dukung selama tidak bertentangan dengan firman Tuhan. sebab di surga nantipun segala suku dan bangsa akan bernyanyi memuji Tuhan. saya rindu sekali semua orang batak terutama Purba ikut dalam mahakonser itu dalam bhs kita sendiri.

antropolog sendiri juga sudah membuktikan bahwa suku2 yg punah dan terancam punah adalah suku2 yg tidak mempertahankan budayanya, mudah tergerus oleh rupa-rupa pengajaran dan perubahan. mudah2an sampai hari penghakiman bangso batak masih ada. oia..sejarah batak tak pernah menyebut dirinya suku batak, tetapi “BANGSO BATAK NAJOGI, BANGSOKI” bangsa batak yg perkasa bangsaku. jadi nenek moyang kita sudah merasa dirinya bangsa dari dahulu, hebatkan…………..dibuktikan tidak ada budak dalam suku batak, semua raja. wah..waham kebesaran nih..

dan kita keturunan purba siap menjadi presiden amerika sebab sejarah tarombo kita jelas, tidak direkayasa, bukti otentiknya masih ada kuburan raja purba khususnya manorsa diharanggaol dan disimamora. itulah sebabnya yg ditoba kususnya masih menginga tbaik2 nomor berapa dia supaya tidak tersesat harus memanggil apa kesaudaranya, jangan sampai manggil anak, padahal oppungnya.

ito sesekali mainlah ke simamora nabolak. marga-marga purba disana masih hapal luar kepala sejarah marganya dan masih bisa menunjukkan kuburan 17 generasi diatas. klo ragu mungkin bisa dibuktikan dengan tes devoniannya ito roy & Wansen sebab mereka ahli mineral yg bisa menebak umur lapisan2 tanah. sebagai contoh, didepan harbangan ( gerbang kuno kampung batak yg dikelilingi pagar bambu) rumah oppung saya berdiri kokoh berigin berusia ratusan tahun. menjadi tempat berteduh para pelintas, para gembala, para anak-anak yg bermain. itulah makam Purba generasi ketiga di simamora. kuburan itu tidak menakutkan bagi keturunannya, tetapi jadi tempat berteduh. dengan gampang saya bisa menemukan sanak saudara saya sampai siraja Purba (saya generasi ke15) dengan hanya melihat makamnya saja. otomatis saya terhubung dgn generasi2 lain dengan hanya berkunjung ke makam. org 2 disana akan langsung bercerita ini raja ini, anaknya sianu-sianu, rumahnya disana disitu, naik keatas lagi sianu-sianu wah-wah-wah…..betapa menyenangkan klo tarombo kita jelas, kitapun berhak berkata inilah bona pasogit kami, disinilah nenek moyang saya 15 generasi yg lalu bermukim…indahnya, adakah suku lain selain nIsrael yg sepeerti itu? makanya saya bangga jadi boru batak dan merasa perlu tahu tarombo…
hidup tarombo..horas.horas……

saya bangga botou berusaha mencari akarnya, mudah2an botou bisa eksis 20 thn lagi menjadi pemimpin dinegara ini. saya emang tertarik karena bapa saya selalu menceritakan sejarah kejatuhan dan kebangkitan bangsa kita supaya kita sadar bahwa kita bukanlah siapa-siapa dan kita memang harus berani bersaing dengan orang lain.

soal SDM ini harus menjadi beban kita sekarang ini, karena untuk menaikkan derajat (emangnya ada derajat dlm kehidupan? hahahhh) suatu generasi saja butuh ratusan tahun. contoh kecil: sangat jarang sekali seorang terkenal didunia ini yg bapak-ibunya masih berpendidikan rendah dan pekerjaan mapan. klo ada anak yg jendral, coba kita telusuri: paling tidak oppungnya dulu sudah kepala nagori lo…

nah berangkat ke statistik orang batak khususnya kita marga purba? jujur belum ada marga kita yg terkenal ditingkat propinsi apalagi tingkat nasional dan internasional. mimpi kali yah? coba kita buat statistik… berapa % kita yg sukses dibidang politisi, bidang pendidikan, bidang pengusaha, berapa % yg secara strata pendidikan sudah S2, S3 & profesor ???mungkin belum ada 1% dr semua marga purba ya Bot?

yah memang kita harus bermimpi, sekaranglah kita mulai membangun jejaring sesama kita, kalu semua marga purba sadar bahwa pendidikan itulah kunci mencapai kesuksesan dan semua sepakat wajib menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya, kalu semua anak harus bekerja secara jujur, berintegritas tinggi disemua bidang, maka bila ada pemilihan Gubernur Tapanuli (klo jadi…mudah2an) dan presiden Indonesia puluhan thn mendatang, kita sudah punya kandidat yg punya daya tawar lebih, sehingga orang lainpun dgn senang hati memilihnya. tetapi semua itu bisa didapat bila kita takut pada Tuhan, itulah asal mula pengetahuan. (biar mida Jahoba do mulani pasu-pasuni bangsonta).
kudoanak Botou bisa bersaing dimanapun berada, horas…
chandra Isabella Purba

Koreksi dari ito Pontas Purba, anak gr. A Purba (op Parasian Purba) dari sidikalang. saya membaca lagi bukunya bahwa sejarahnya adalah:

Tuan manorsa bukan membunuh istrinya secara lgsg, tetapi karena cemburu saat melihat istrinya br Pasaribu sedang mencari kutu paribannya, maka dia memotong payudara istrinya lalu melarikan diri dgn meninggalkan 3 org anak lelaki ( soimbangon, sorta malela, op taraim) karena dikejar raja pasaribu. kemudian oppung boru meninggal (mungkin karena infeksi dan hipovolemia/ kurang darah).

kemudian kawin dgn br Tamba dan punya dua anak lelaki (raja tarbuang & op hinokkop), dan menetap disamosir. merantau ke simalungun dan saat pulang ke samosir menemukan istrinya sdh meninggal lalu membawa kedua putranya ke simalungun dan menikah lagi disimalungun. trims ito atas koreksinya. horas

2 comments:

  1. Pada intinya...tidak/belum ada kata sepakat kalau Orang Simalungun, Karo, Toba, Pak-Pak, Atau Mandailing berasal dari satu garis
    keturunan yang sama. Kalau klaim mengklaim memang ada saja.
    Konon ada orang karo yang menolak disebut sebagai "batak karo" (padahal dikalangan karo, ada nama gereja "Gereja Batak Karo Protestan,GBKP kalo tidak salah. Tapi mungkin saja yang menolak itu bukan orang kristen, atau enggan mengkaitkannya dengan keagamaan.


    Yang menarik, ada penemuan bahwa bahasa Simalungun lebih tua dari bahasa Toba:)

    ReplyDelete
  2. "yg pasti bukan dari simalungun ke toba tapi dari toba ke simalungun"

    Yang mengatakan kutipan diatas, tolong didalami lagi sejarahnya, jangan cuma percaya tahyul

    ReplyDelete

Chika Action

Chika Action